Orasi Guru Besar Prof. Sutrisno, M.Agr : Peran Teknologi Penyimpanan dalam penanganan Produk Segar Buah Tropika Indonesia

prof sutrisno

Prof. Dr. Ir. Sutrisno, M.Agr pada 23 Mei 2014 di Auditorium Andi Hakim Nasution gedung Rektorat Institut Pertanian Bogor (IPB). Pada orasi ini beliau mempresentasikan pemikiran mengenai Teknologi Penyimpanan dalam penanganan Produk Segar Buah Tropika Indonesia.

Salah satu penyebab banyaknya buah-buahan impor ke Indonesia adalah kelemahan daya saing buah-buahan lokal,
akibat masih belum tertatanya sistem rantai pasok dari tingkat produksi (on-farm), penanganan pascapanen hingga
pemasarannya (off-farm). Di sisi lain, permintaan buah-buahan tropika dari negara-negara maju dalam beberapa tahun terakhir ini menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan.

Kondisi ini menjadi peluang yang sangat besar bagi negara produsen buah-buahan eksotika tropika, termasuk Indonesia. Persyaratan ekspor yang ketat, shelf life produk yang pendek, serta standar mutu konsumen di wilayah negara-negara pengimpor yang tinggi menjadi tantangan yang harus dihadapi untuk dapat memanfaatkan peluang yang sangat besar ini. Total kontribusi pasokan buah tropika Indonesia terhadap pangsa pasar dunia tidak lebih dari 0,01%, Indonesia masih jauh tertinggal dari negara produsen buah tropika lainnya (Sutrisno et al. 2014).

Keragaan suatu produk pertanian, baik secara kuantitas maupun kualitas sangat ditentukan oleh kegiatan on-farm, namun perbaikan selama off-farm sangat perlu dilakukan melalui penerapan penanganan pascapanen yang baik dan benar (Good Handling Practices/GHP) guna mempertahankan mutu dan meningkatkan daya simpan sehingga pemasaran produk dapat menjangkau wilayah yang lebih luas.

Setiap tahapan dalam pascapanen dapat mencapai hasil yang optimal bila dalam penanganannya memperhatikan karakteristik fisiko-kimia dan fisiologis produk. Penanganan pascapanen yang baik mampu meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk, baik untuk pasar domestik maupun pasar global, yang pada akhirnya akan meningkatkan marjin petani dan para pelaku usaha yang terlibat di dalamnya (Sutrisno et al. 2010).

Beberapa hal terkait dengan persyaratan mutu, sertifikasi dan ketersediaan produk sering menjadi hambatan bagi para pelaku ekspor, sehingga daya saing beberapa produk hortikultura unggulan Indonesia seperti manggis, salak dan mangga masih kalah dari negara-negara eksporter lain. Indonesia sebetulnya memiliki potensi volume dan jenis produksi buah-buahan yang lebih besar dibandingkan negara-negara eksportir lain.

Oleh karena itu, dalam rangka meningkatkan mutu, daya saing, dan nilai tambah produk terutama untuk pasar global yang memiliki persyaratan sangat ketat, disamping perbaikan manajemen produksi pada sisi on-farm menuju sertifikasi sehingga compliance dengan pasar global, perbaikan pada sisi off-farm khususnya pada sistem penanganan pascapanen sudah sangat mendesak untuk dilakukan.

Kendala utama yang dialami petani Indonesia terkait dengan masalah pascapanen produk buah tropika (World Bank 2012) antara lain:

  1. keterbatasan sarana dan prasarana pascapanen, termasuk fasilitas penyimpanan dan sarana transportasi yang kurang baik,
  2. panjang dan rumitnya sistem rantai pasok produk hortikultura akibat dari kecil dan terpencarnya unit usaha dari petani,
  3. masih terbatasnya industri pengolahan sayuran dan buah-buahan, dimana sebagian besar produk (sekitar 70%−80%) dikonsumsi sebagai produk segar, menyebabkan kesulitan dalam sistem produksi dan manajemen pasokan, apalagi tanpa dukungan sistem rantai dingin (cold chains system) yang memadai,
  4. kesenjangan pengetahuan dan kepedulian yang rendah terkait masalah penanganan pascapanen pada seluruh stakeholders, serta
  5. belum imbangnya insentif ekonomi yang memadai pada produk yang bermutu lebih baik

Buku Orasi lengkap dapat diakses di sini.

Leave a reply

Your email address will not be published.